Loka
Penelitian Sapi Potong telah melakukan penelitian pakan menggunakan
salah satu bahan asal biomas tanaman pangan yaitu biomas singkong
sebagai upaya efisiensi pada pemeliharaan sapi pedet lepas sapih.
Potensi biomas singkong
Singkong
merupakan sumber pakan yang potensial untuk sapi potong karena hampir
semua bagian tanaman maupun hasil samping agroindustrinya dapat
dimanfaatkan.
Biomas agroindustri singkong antara lain adalah onggok, kulit singkong, ataupun singkong afkir yang mengandung
bahan kering (BK) antara 88,65 – 94,35% dan energi (TDN) antara 56,91 –
64,75% BK adalah merupakan bahan pakan yang cukup potensial digunakan
sebagai sumber energi.
Produktivitas sapi jantan lepas sapih
Pengujian
pakan penguat yang mengandung biomas singkong (berupa tepung singkong
afkir) sebesar 50 dan 60% pada sapi jantan lepas sapih mampu
menghasilkan PBBH sebesar 0,76 dan 0,81 kg/ekor/hari Pakan diberikan sebanyak
3,5 % BB berdasarkan BK dengan imbangan 20% jerami kering dan 80% pakan
penguat, sedangkan bahan pakan penyusun pakan penguat yang lain adalah
dedak padi, bungkil kopra, bungkil inti sawit, dan mineral.
Hasil analisis ekonomi menujukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat mempunyai nilai RC ratio 1,83 dan singkong afkir sebesar 60% mempunyai nilai RC ratio yang lebih tinggi yakni sebesar 2,20; sehingga layak untuk diterapkan karena secara ekonomis menguntungkan.
Produktivitas betina lepas sapih
Pakan
diberikan untuk mencapai target PBBH ≥ 0,5 kg/ekor/hari agar dapat
mencapai bobot badan ≥225 kg pada umur pubertas (<18 bulan).
Pencapaian umur pubertas sesuai target akan dapat dicapai umur beranak
pertama ≤27 bulan. Pemberian pakan dengan kandungan singkong afkir 50%
dalam pakan penguat mampu menghasilkan PBBH sebesar 0,54 kg/ekor/hari
sesuai dengan target yang ditentukan. Sedangkan pemberian sebesar 60%
menghasilkan PBBH 0,36 kg/ekor/hari lebih kecil dari target 0,5
kg/ekor/hari.
Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 60% mempunyai RC ratio 1,40 lebih tinggi dari penggunaan singkong afkir sebesar 50% dengan RC ratio 1,02.
Penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat lebih layak
untuk diterapkan karena meskipun 60% singkong afkir secara ekonomis
lebih menguntungkan namun karena target PBBH yang dicapai lebih rendah
maka target berat badan saat pubertas tidak dapat dipenuhi;
mengakibatkan target umur beranak pertama < 27 bulan tidak dapat tercapai.
Disimpulkan
bahwa penggunaan pakan penguat yang mengandung biomas singkong berupa
singkong afkir sampai dengan 60% dalam pakan penguat mampu menghasilkan
PBBH sapi jantan sebesar 0,81 kg/ekor/hari lebih besar dari yang
ditargetkan 0,7 kg/ekor/hari dengan nilai RC ratio 2,20 yang
layak untuk diterapkan Sedangkan penggunaan singkong afkir sebesar 50%
dalam pakan penguat diperoleh PBBH 0,54 kg/ekor/hari sesuai dengan
target yang diharapkan sehingga akan diperoleh berat badan 225 kg pada
umur 18 bulan dan akan dicapai umur beranak pertama pada 27 bulan. RC ratio yang dicapai sebesar 1,02 yang secara ekonomis layak untuk diterapkan.






0 komentar:
Posting Komentar